Human Development – Perkembangan Manusia


Psikologi Perkembangan Dewasa

Istilah adult atau dewasa berasal dari kata kerja latin yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Oleh karena itu orang dewasa adalah seseorang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukannya di dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya. Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun. Secara umum, mereka yang tergolong dewasa awal ialah mereka yang berusia 20-40 tahun.
 Mahasiswa merupakan individu yang memasuki masa dewasa awal.  Masa dewasa awal merupakan masa transisi dari masa remaja ke masa dewasa. Orang dewasa sering diangap lebih bijaksana dan berfikir dengan matang ketimbang remaja atau anak-anak. Hal tersebut salah satunya dipengaruhi oleh perkembangan kognitif pada masa dewasa awal itu sendiri. Pikiran sehat menyatakan kepada kita bahwa orang dewasa berpikir dengan cara yang berbeda dengan yang dilakukan anak-anak dan remaja. Mereka melakukan beberapa percakapan yang berbeda, memahami materi yang lebih rumit, dan menggunakan pengalaman mereka yang lebih luas untuk memecahkan masalah praktis.

Berikut adalah beberapa perkspektif terhadap kognisi orang dewasa: 

Menurut Piaget, orang dewasa mengalami pergeseran ke arah pemikiran post-formal. Pemikiran pada masa dewasa cenderung tampak fleksibel, terbuka, adaptif, dan individualistis. Hal tersebut didasarkan kepada intuisi dan emosi serta logika untuk membantu orang-orang menghadapi dunia yang tampak kaotis ini. Hal tersebut tampak seperti buah pengalaman terhadap situasi yang ambigu. Hal tersebut ditandai dengan kemampuan berhadapan dengan ketidakpastian, ketidakkonsistenan, kontradiksi, ketidaksempurnaan, dan kompromi (seperti seseorang bernama Arthur Ashe ketika berhadapan dengan batasan kemampuan berkaitan dengan kemampuannya di karier tenis). Tahap kognisi seperti ini seringkali disebut pemikiran postformal.
Pemikiran postformal bersifat relatif. Pemikiran yang belum dewasa memandang sesuatu hitam atau putih, benar atau salah, otak versus perasaan, pikiran versus tubuh. Sedangkan pemikiran postformal melihat bayangan abu-abu. Pemikiran tersebut seringkali muncul sebagai respons terhadap peristiwa dan interaksi membuka cara pandang yang tidak biasa terhadap sesuatu dan menantang pandangan sederhana terpolarisasi tehadap dunia. Pemikiran tersebut memungkinkan orang dewasa melampaui sistem logika tunggal dan mendamaikan atau memilih di antara beberapa ide yang saling berlawanan, yang berdasarkan perspektifnya sendiri bisa jadi memiliki klaim yang valid akan kebenaran.

Jan Sinnot, salah seorang periset terkemuka, mengemukakan beberapa kriteria pemikiran postformal. Di antaranya:
1.      Fleksibel. Kemampuan untuk maju dan mundur antara pemikiran abstrak dan pertimbangan praktis dan nyata. Seperti “Di atas kertas hal ini mungkin berjalan, tapi tidak di dunia nyata.”
2.      Multikausalitas, multisolusi. Kesadaran bahwa sebagian besar masalah memiliki lebih dari satu penyebab dan lebih dari satu solusi, dan sebagian solusi berkecenderungan lebih besar untuk berhasil dibandingkan yang lain. Seperti “Mari kita coba dengan caramu, jika tidak berhasil, kita bisa coba dengan cara saya.”
3.      Pragmatisme. Kemampuan untuk memilih yang terbaik dari beberapa kemungkinan solusi dan menyadari kriteria pemilihan tersebut. Seperti “Jika Anda menginginkan solusi paling praktis, lakukan ini. Jika Anda menginginkan solusi paling cepat, lakukan itu.”
4.      Kesadaran akan paradoks. Menyadari bahwa masalah atau solusi mengandung konflik inheren. Seperti “Melakukan hal ini akan memberikan apa yang diinginkannya, tapi akhirnya hanya akan membuatnya bersedih.”

Pemikiran postformal berhadapan dengan informasi dalam konten sosial. Tidak seperti masalah yang dipelajari Piaget, yang melibatkan fenomena fisik dan menuntut observasi dan analisis yang tidak memihak dan objektif, dilema sosial jauh tidak terstruktur dan penuh dengan emosi. Pada situasi seperti inilah seorang dewasa memanggil pemikiran postformalnya.

Kemudian Schaie, salah seorang peneliti yang mengajukan model rentang kehidupan perkembangan kognitif. Model Schaie melihat perkembangan penggunaan intelek dalam konteks sosial. Tujuh tahapnya berkaitan dengan tujuan yang muncul ke permukaan dalam berbagai tahap usia. Tujuan ini bergeser dari penguasaan informasi dan keterampilan (apa yang harus saya ketahui) kepada integrasi praktis pengetahuan dan keterampilan (bagaimana menggunakan apa yang saya ketahui) untuk mencari makna dan tujuan (mengapa saya harus tahu). Masa dewasa berada pada tahap pencapaian, pertanggungjawaban, eksekutif, reorganisasi dan reintegratif.

Stenberg: Wawasan dan Know-How
Ada 3 elemen, yaitu:
1.      Elemen eksperimental. Istilah Sternberg bagi aspek kecerdasan berwawasan dan kreatif.
2.      Elemen kontekstual. Istilah Sternberg untuk aspek praktis dari kecerdasan.
3.      Elemen komponensial. Istilah Sternberg untuk aspek analitis kecerdasan.

Pengetahuan implisit menurut istilah Sternberg untuk informasi yang tidak diajarkan secara formalatau diekspresikan secara terbuka tapi dibutuhkan untuk terus maju. Pengetahuan implisit dapat mencakup manajemen diri, yaitu mengetahui cara memotivasi diri sendiri dan mengorganisir waktu dan energi; manajemen tugas, yaitu mengetahui cara menulis kontrak bersyarat atau proposal pinjaman; dan manajemen orang lain, yaitu mengetahui kapan dan bagaimana memberikan imbalan atau mengkritik bawahan.

Sumber: Buku Human Development – Perkembangan Manusia (Feldman, Papalia, dan Olds)
Link:http://library.uny.ac.id/sirkulasi/index.php?p=show_detail&id=50516&keywords=human+development 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Qoshidah Fadhoilil-Quran

Kok Gampang Lelah Sih ??